Makan di Nasi Tempong Mbok Wah Banyuwangi pada Era New Normal, Seperti A「Online gambling games」pa Aturannya?

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Taruhan menonton bola

OOnline gambling gamesnline gambling gamesBaca juOnline gambling gamesga: Sego Tempong, Kekayaan Rasa Banyuwangi

Baca juga: Panduan Makan di Restoran pada Era New Normal

Nasi Online gambling gamesTempong Mbok Wah menyajikan beragam lauk seperti ikan goreng, udang goreng tepung, paru, cumi hitam, dan sate telur puyuh serta aneka sayuran rebus.

Namun sejak pandemi COVID-19, jumlahnya tidak seperti biasanya karena jumlah pengunjung menurun drastis. Bahkan ia harus menutup usahanya dalam waktu yang cukup lama.

Pekerja di Nasi Tempong Mbok Wah memakai alat perlindungan diri.

Sambal khas nasi tempong.

"Semua karyawan yang masuk dipastikan kesehatannya, dengan cek suhu tubuh dan menggunakan masker dan pelindung wajah. Tempat cuci tangan dan hand sanitizer juga kami siapkan di setiap area rumah makan," kata Towi yang juga adik dari Mbok Wah.

KOMPAS.com - Nasi atau sego tempong, kuliner pedas khas Banyuwangi yang wajib dicoba saat berkunjung ke kota asal Tari Gandrung ini.

Melansir siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (5/7/2020), penjual nasi tempong di Banyuwangi sudah mulai beroperasi kembali dengan penerapan protokol kesehatan.

Pelanggan diwajibkan cuci tangan sebelum masuk area Nasi Tempong Mbok Wah.

Salah satunya adalah Nasi Tempong Mbok Wah yang sangat legendaris. Berlokasi di Jalan Gembrung Nomor 220, Glagah, Bakungan, Banyuwangi, Jawa Timur.

Nasi tempong yang berisi nasi putih, tempe, tahu, ikan asin, sayuran rebus seperti bayam, kol, dan terong. Tentunya ditambah sambal yang menjadi ciri khas kuliner pedas ini.

Menurut Towi, pengelola rumah makan Sego Tempong Mbok Wah, warung ini bisa menghabiskan lima kilogram cabai rawit untuk sambal.

Pada era new normal ini, seperti apa rasanya makan di warung nasi tempong?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Istimewanya, sambal baru diulek saat ada yang pesan nasi tempong sehingga lebih terasa pedas dan segar yang seolah 'menampar' lidah. Sesuai namanya, 'tempong' dari Bahasa Osing Banyuwangi berarti 'tampar'.