Gaming industry_Sports betting_Brazil Gaming

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Taruhan menonton bola

“Setelahnya Texas Hold'eTexas Hold'em Downloadm DownloaddTexas Hold'em Downloadi text dia bilang sakit katanya tipes, terus demam berdarah, terus meningitis, terus chat-ku nggak pernah dibalas lagi. Terakhir aku cek WA sama Telegram ku diblokir,” tutur Melisa. 

Tak ayal Melisa merasakan yang namanya ‘kekejaman emosional,’ istilah yang dipakai Jennice Vilhauer untuk menjelaskan dampak ghosting. Tak memikirkan perasaan dan dampak lawannya, pelaku ghosting menyelamatkan diri dari ketidaknyamanan emosionalnya sendiri. Padahal, korban ghosting merasakan luka batin berlipat-lipat. Soalnya, korban nggak hanya mempertanyakan soal hubungannya, tapi juga dirinya sendiri.

Saat dibohongi dan dimanipulasi, maka kamu tidak berutang penjelasan apapun untuk mengakhiri hubungan. Misalnya, pasanganmu ternyata telah menikah selama ini. Sikapnya tentu tidak terpuji dan bukti kalau dia tidak peduli denganmu, sehingga dia membohongimu demi kepentingan egonya sendiri. Kalau kamu memilih pemutusan hubungan dengan cara ghosting, maka sah-sah saja.

Sebaliknya, menghindari perasaan tidak nyaman atas penolakan bisa jadi penyebab juga. Seperti Fariz, mahasiswa Ilmu Komunikasi di sebuah universitas ternama di Jawa Timur. Pernah jadi korban ghosting, nggak menghalangi Fariz untuk menjadi pelaku juga ternyata. Respons dari gebetan yang udah nggak bersambut membuat Fariz memilih ghosting sebagai solusi.

“Wah udah kayak orang gila. Pertama ngerasa nggak berharga, worthless, bingung, ngarep kalau dia bakal datang lagi, hilang percaya diri, nyalahin diri sendiri, clueless banget lah. Sampai sekarang itu masih jadi kenangan terburukku sama lawan jenis,” ungkap Melisa.

Demi memulihkan diri dan bebas dari perasaan yang menyakitkan, Melisa sampai mengunjungi layanan psikologis. Dengan cara itu, Melisa pelan-pelan keluar dari belenggu dampak ghosting. Kini, kondisinya membaik dan tak seburuk sebelumnya.

Ghosting dianggap sebagai metode pemutusan hubungan yang egois. Soalnya, pelaku ghosting hanya memikirkan perasaannya sendiri dan mengabaikan perasaan korban. Pelaku cenderung tidak acuh dengan dampak kepergiannya yang tanpa penjelasan, yang penting praktis dan minim dampak untuk dirinya sendiri.

Cinta yang penuh romansa bisa berakhir tragedi dalam waktu sekejap. Meskipun dampaknya bikin mental korban amburadul, ghosting bisa juga dibenarkan kok bila alasannya memang tepat. Tahan… Tahan dulu… Para korban ghosting pasti udah siap-siap lempar meja dan kursi  membantah pernyataan tersebut, kan?

Selepas pertemuan itulah, si cowok menghilang tiba-tiba dari kehidupan Melisa. Wussss! Bak angin berhembus dan tak kembali lagi. Sebelum pergi, si cowok sempat meminjam uang karena nggak punya pegangan duit sama sekali usai mengaku dompetnya hilang, plus kartu ATM yang diblokir.

Ghosting itu boleh, asalkan….. | Illsutration by Hipwee

“Everything was perfect: nice, light, energizing,” kenang Melisa, yang kini mengadu nasib di ibukota.

Ketika merasa nggak cocok dan enggan melanjutkan obrolan, orang dapat mengambil keputusan untuk ‘menghilang’. Apalagi, dengan adanya fitur “blokir,” pemutusan hubungan sepihak dan pergi tanpa pamitan sangat mungkin terjadi.

Hari itu, mereka bertemu seperti biasa, tapi si cowok mengaku kehilangan dompet. Melisa nggak curiga apa-apa. Keduanya bahkan masih menghabiskan waktu bersama malam itu. Keanehan mulai muncul ketika Melisa memergoki orang tersebut merekam dirinya yang tengah tertidur. Keesokan paginya, Melisa langsung meminta dan mendesak penjelasan. Tentu ia khawatir video dirinya yang terlelap malah disalahgunakan dan disebarkan secara online. Nasib baik, rekaman itu dihapus di depan matanya sendiri.

Dunia percintaan dan kencan memang penuh liku, ya. Istilah-istilah baru muncul dalam modern dating. Kalau dulu, urusan asmara mungkin nggak terlalu ribet. Paling mentok persoalan pacar atau gebatan nggak balas surat cinta, tapi sekarang dunia kencan diliputi konflik-konflik baru dan ghosting hanya salah satunya saja.

“Dia kekeh pengin ketemu. Katanya, kalau aku nggak mau, dia nggak peduli. Dia bilang udah tahu alamat kosku, alamat rumah orang tuaku juga. Padahal aku nggak pernah ngasih tahu dia,” ungkap Aditya.

Jika mengalami kekerasan atau pecelehan, menutup komunikasi secara total dengan pacar atau kenalan adalah keputusan yang benar. Dalam konteks ini, ghosting dapat dimaklumi walaupun orang lain akan merasa bingung dan penuh tanda tanya.

Sebelum ngomongin hal ini lebih jauh, ada baiknya kita menilik sebentar pengalaman orang-orang yang pernah jadi korban dan pelaku ghosting nih.

Ketika orang yang dikenal tiba-tiba menghilang | Photo by cottonbro on Pexels

Seperti namanya, ghosting benar-benar membuat korban merasa seperti berhubungan dengan hantu yang hilang begitu saja. Kepergian pelaku tanpa peringatan menyebabkan korban merasakan efek psikologis yang nggak main-main lo, malah ghosting disebut-sebut lebih menyakitkan dan bikin nelangsa ketimbang putus asmara.

Ketika menghadapi konflik-konflik yang kaitannya dengan hubungan, perlu kehati-hatian. Soalnya, masalah tidak cuma soal benar dan salah, bisa jadi masalah yang terjadi berada di garis abu-abu. Jadi, siapa yang benar dan siapa yang salah akan sulit didefinisikan. Sama halnya dengan kasus-kasus ghosting, bisa salah, tapi bisa benar juga dengan alasan yang masuk akal.

Namun, beberapa alasan ghosting  bisa saja ‘dibenarkan’ atau lebih tepatnya dimaklumi. Menukil Psychology Today, Jenice Vilhuare mengungkapkan, kamu nggak apa-apa kok ambil keputusan ghosting, bila mengalami hal-hal berikut ini:

Ia pun langsung menutup akses komunikasi, terutama di media sosial yang membuat ia dan gebetan nggak terhubung lagi. Fariz mengabaikan kemungkinan gebetan masih ingin terkoneksi dengannya.

Disclaimer: demi kenyamanan dan privasi, nama-nama dalam tulisan ini sengaja disamarkan. Namun, cerita mereka riil, tanpa rekayasa.

“Terus udah nggak ada respons yang bagus lagi dari pihak sananya. Jadi, kayak apalagi yang harus dijelasin,” kata Fariz.

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

Muncul anggapan kalau apapun alasannya, ghosting tetap tidak bisa dibenarkan. Apalagi, bila motifnya murni karena rasa egois dan niat jahat. Menurut mereka yang pernah jadi korban ghosting, jika memang datang dengan baik-baik, maka seharusnya bisa pergi dengan baik-baik juga. Meskipun niat awal memang main-main saja, sebaiknya perpisahan tetap disertai penjelasan.

Sama seperti kasus Aditya sebelumnya, ketika orang lain ogah menerima jawaban ‘tidak,’ maka menghentikan komunikasi sepihak bukan kesalahan. Sebaliknya, kamu justru bisa merasa aman dan selamat dari perilaku toxic orang lain.

Tanda-tanda bahwa hubunganmu beracun adalah adanya pelanggaran batas dan privasi. Misalnya, pacar atau kenalanmu tiba-tiba muncul di tempat kerja, mengancam, memaksa untuk bertemu, atau menghubungi teman-temanmu untuk mencari tahu rutinitasmu. Semua red flags tersebut dapat jadi alasan untuk kamu pergi tanpa penjelasan.

Melihat hubungannya mulai mengarah ke toxic relationship, akhirnya Aditya memutuskan komunikasi sepihak. Menurutnya, cara itu harus diambil karena kenalannya tidak mau mendengarkan dan tetap ngotot bertemu. Bahkan si cewek sampai menghubungi orang tua Aditya untuk memberitahu niatnya menjalin hubungan dengan anaknya. Wah, creepy~

Pertemuannya dengan seseorang lewat aplikasi kencan berjalan dengan mulus. Punya kecocokan, keduanya bisa betah ngobrol lama-lama. Setelah pertemuan pertama, komunikasi mereka juga makin intens setiap harinya. Pertemuan mereka juga makin sering terjadi setelahnya. Setidaknya, mereka berjumpa sebanyak 2 kali dalam sepekan.

Rasa sakit yang berlipat-lipat setelah kena ghosting | Photo by Engin Akyurt on Pexels

Selain itu, ghosting menawarkan penyelesaian yang terbilang nyaman, meski dilakukan secara sepihak. Singkatnya, ghosting memudahkan seseorang untuk lepas dari ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang dirasakannya saat mengakhiri hubungan. Misalnya, ia tak perlu menyaksikan orang lain terluka atas keputusannya. Sementara itu, bagi korban, terkadang perpisahan dan penjelasan yang menyakitkan bisa lebih diterima ketimbang kepergian tanpa sepatah kata.

Sementara itu, Aditya punya alasan lain di balik pilihannya untuk ghosting. Berkenalan dengan cewek di aplikasi kencan, Aditya belum punya bayangan untuk membawa hubungan ke relasi romantis. Lantaran tinggal di beda kota, mereka hanya berkomunikasi via telepon. Setelah beberapa kali ngobrol dan berbagi cerita, ternyata si cewek punya rasa, sampai-sampai cewek ini nekat ingin menemui Aditya. Sayangnya Aditya merasa keberatan.

Komunikasinya dengan si cowok terputus seketika setelah si cowok memutuskan menghilang. Padahal, di pertemuan terakhir, hubungan mereka baik-baik saja. Hanya satu yang membuat Melisa merasa beruntung kalau mengingat kejadian itu, ia sempat mengonfrontasi soal rekaman dirinya yang tidur. Tak terbayangkan di benaknya bila si cowok menghilang dengan membawa rekaman tersebut.

Digitalisasi kini sudah merambah ke banyak hal, menemukan tambatan hati salah satunya. Aplikasi kencan dan media sosial membuka ruang untuk bisa saling terhubung dan mulai menjajaki hubungan, bahkan jika belum pernah bertemu. Namun, kemudahan berkenalan itu berbanding lurus dengan kemudahan untuk memutuskan hubungan secara tiba-tiba. Perkenalan melalui media sosial memicu fenomena baru yakni ghosting, yang mungkin sudah akrab kamu dengarkan atau… alami?