Bookmaker Ranking_Gambling Handicap_Betting Handicap

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Taruhan menonton bola

BBaccarat simple best strategyaccarat sBaccarat sBaccarat simple best strategyimple best strategyimple best strategypadahal kan Cowok Minang ganteng-ganteng ya? Cewek Aceh juga cantik-cantik.

PleaseBaccarat simple best strategy, jangan tanya versi lengkapnya. Kamu gak hapal.

Kalau sampai salah dalam penggunaan tata bahasa, siap-siap dianggap anak kurang ajar oleh para sesepuh.

Kalau dipanggil orang tua, si anak harus menjawab ‘Dalem” atau “Kula” ini juga berlaku ketika dipanggil oleh orang yang terhormat.  Saking terbiasanya, kebiasaan ini sering  terbawa ketika berinteraksi dengan teman-teman. Contoh:

Kebanyakan orang tua Jawa ingin anaknya mendapat pasangan yang datang dari suku yang sama. Alasannya sederhana. Mereka pengen kamu punya pasangan yang satu suku agar mudiknya gak kesusahan dan lebih bisa kompromi dengan adat istiadat yang udah terbentuk.

Rasanya pengen bilang ke mereka: “LAU PIKIR SINI GAK KESUSAHAN CARI ART?”

Terlepas dari adat-istiadat yang menurut kamu gak penting dan ribet, kamu tetap harus bangga jadi orang Jawa. Dan harus menghargai budayamu sendiri sebagai anak muda.

Dira: “Ha? didalem kenapa Mon?”

Sayur lodeh dan sayur asem adalah makanan-makanan yang sering dikangenin dan gak jarang dijadikan makanan favorit. Karena ini makananan sehari-harinya keluarga Jawa, kamu cuma bisa terheran-heran kalau ada orang yang bilang kangen sama sayur lodeh dan sayur asem.

Simbah: “Kowe piye kuliahe? Wis rampung?” (Kamu gimana kuliahnya? Udah selesai?)

Bahasa kromo atau bahasa halus digunakan ketika kamu berbicara dengan orang yang lebih tua. Dan dalam bahasa Jawa terdapat 2 tingkatan yaitu ngoko dan kromo dan di bahasa ngoko masih ada 2 tingkatan yaitu ngoko alus dan ngoko basa. Di bahasa krama juga terdapat 2 tingkatan yaitu kromo madya dan kromo alus.

Teman yang kemarin ngutang datang: (dengan nada tinggi penuh semangat) “Woy lae, dang adong hepengku” (Woy bro, gak ada duit aku)

Misal: kamu punya sepupu yang lebih muda 5 tahun dari kamu, tapi karena dia adalah anaknya kakaknya Bapak kamu atau Ibu kamu, mau gak mau kamu harus manggil dia Mas atau Mbak dan dia harus manggil kamu Dik. Kalau kalian masih kecil mungkin nurut-nurut aja, tapi ketika besar, akan kagok sendiri pas ngobrol. Contoh:

SALAM JOWO YANG GAK NDESO!

Mari kita dengar cerita Rahma yang berasal dari Jogja. Saat dia belanja dan harus menawar di Pasar Gede Bage, tiba-tiba penjualnya bertanya:

Kalau ada adat yang membuat kamu gak sreg, lebih baik kamu kompromikan dengan orangtuamu agar tidak terjadi percecokan dengan anggota keluarga yang lain.

Kamu orang Jawa yang kuliah di Medan. Teman-temanmu kebanyakan orang Batak. Dengar mereka ngomong kadang bikin kamu deg-degan.

Dalam tata krama Jawa kita diharuskan untuk menundukkan badan ketika melewati orang yang lebih tua yang sedang duduk. Karena sudah terlalu biasa, kamu jadi sering kelepasan melakukan ini terus menerus. Lewat di depan teman aja nunduk.

Tapi bukan berarti aku ndeso, dong?

“Waaaahh iki Jakarta tooo?? Dhuwur-dhuwur yoo omahe!!” (Waaaahh ini Jakarta?? Tinggi-tinggi ya rumahnya)

Aku Jowo. Iya, gaya bicaraku memang medhok.

HEHE-HEHE-HEHE.

Selain itu, kamu juga mulai lupa sama unggah-ungguh yang harus kamu lakukan sebagai orang Jawa. Sampai-sampai Kakek dan Nenekmu memandang kamu dengan sebal pas lagi kumpul keluarga.

PLEASE, jangan ingatkan juga kalau besok setelah berkeluarga kamu harus minta maaf mewakili keluargamu sendiri pakai Bahasa Jawa. Bayanginnya aja kamu gak sanggup.

Saudara #2, 20 tahun: ‘Baik Dik, eh salah, Mbak.”

Nah, sekarang Hipwee mau kasih apa aja yang sering banget dialami oleh orang Jawa, terutama orang mudanya, dalam kehidupan keluarga dan sosial, baik ketika berada di Jawa atau diluar Jawa.

Dira: “Mon, Mon, Monik.”

“BIAR MUKA NDESO YANG PENTING OTAK INTERNASIONAL!”

Bahkan bisa dilabelin kayak kacang yang udah lupa sama kulitnya.

Gak usah rebutan harus nikah pakai adat apa sih sebenarnya.

(Kaget setengah mati. Mending nggak usah bayar hutang deh gak papa daripada kamu jantungan)

Kemudian kamu akan mengucapkannya dengan kagok dan terpatah-patah

Kamu mungkin sering lihat di sinetron-sinetron atau di FTV tentang karakter dari Jawa yang logatnya masih kental, datang ke kota besar seperti Jakarta sambil pake beskap, blangkon, terus barang bawaannya dibungkus pake sarung dan langsung excited begitu melihat gedung-gedung yang tinggi, karena yang kayak gitu gak ada di daerah asalnya

Kamu: *cuma tahu Bahasa Jawa ngoko, bingung jawabnya* *akhirnya cuma jawab dengan senyuman*

Lu pikir Jawa cuma Jogja atau Solo aja? Banyumas, Semarang, Purwokerto, Pekalongan, Magelang juga Jawa kali. Baca peta deh, please!

Dalam hatimu: BANDUNG UDAH PINDAH PULAU YA? BUKAN JAWA LAGI?

(Kamu sedang duduk diam dengan manis)

Banyak banget orang Jawa yang berprofesi sebagai ART, saking banyaknya gak jarang orang nitip ke kamu buat nyariin. Padahal, Orangtua kamu yang tinggal di Jawa saja kesusahan mencari ART gara-gara minat orang untuk menjadi ART sudah berkurang karena lebih memilih untuk menjadi buruh. Dan kamu pun juga keberatan, karena kamu gak punya skill jadi agensi ART.

Bagi mereka yang masih menjunjung “unggah-ungguh” gak sopan aja kalau kamu manggil kakakmu dengan 2 kata itu, bukan dengan “aku” atau “kamu.”

Panggilan untuk sepupu atau saudara jauh bukan ditentukan oleh umur, tapi ditentukan oleh posisi orang tua mereka dalam keluarga.

“Dari Jawa ya Mbak?”

Gara-gara penggambaran yang seperti ini, Orang Jawa sering banget dapet stereotype orang ndeso, dan gak jarang begitu kamu pindah ke kota metropolitan seperti Jakarta dengan logat kamu masih kental kamu langsung diejek sama teman-teman kamu. Padahal, yang jadi Presiden aja seringnya orang Jawa.

Kelamaan tinggal di luar kota bikin logat Jawamu hilang. Bahkan, orang sampai mengira kalau kamu bukan orang Jawa. Hal ini bikin teman-teman dan saudaramu keheranan kalau mereka ketemu sama kamu lagi setelah sekian lama.

Kayak kata Jokowi:

Monik:”Dalem”

Kamu cuma hapal, “Sugeng Riyadi. Sedaya lepat nyuwun pangapunten”

Harga bahan pokok diluar Jawa memang lebih tinggi daripada di Pulau Jawa, karena biaya pengirimannya dan transportasi perdagangan di indonesia juga belum efektif. maka dari itu, bagi orang jawa yang tinggal diluar pulau Jawa akan terkaget-kaget diawal kedatangan mereka.

Orang Jawa, sering banget  digambarkan sebagai orang yang gak ngerti apa-apa soal kehidupan kota dan hal-hal moderen lainnya.

Search: Cara minta maaf saat lebaran dalam Bahasa Jawa

Dianggap aneh? WES BIYASA.

Suku Jawa adalah suku yang paling banyak jumlah orangnya di Indonesia. Selain itu, orang-orang Jawa juga tersebar sampai ke pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Dominasi mereka dalam narasi tayangan televisi di Indonesia juga sangat kuat. Ini semua menjadikan mereka salah satu yang paling “eksis” di Indonesia.

Orang Jawa terbiasa makan-makanan yang cenderung manis dan kalaupun pedas, pedasnya pun juga gak seberapa.  Kamu pun jadi kesusahan kalau harus tinggal ke daerah yang kuliner khasnya adalah makanan-makanan yang pedas.

Karena udah kebiasaan ngomong “gue” dan “elo”, bahkan sama saudara kandung sendiri seperti Kakak atau Adik, kamu jadi kelihatan kurang ajar ketika kumpul keluarga.

Dari kecil, kamu sudah diajarkan untuk menyenangkan hati orang lain dan selalu diajarkan agar meminimalkan pengucapan enggak. Akhirnya, sering banget kalau ingin menolak sesuatu kamu bikin kalimat yang mbulet alias muter-muter karena gak mau menyinggung hati.

TERUS AKU KUDU PIYE??